Rabu, 11 Juni 2014



Pagelaran Piala Dunia Brasil 2014 akan segera dimulai, Brasil melawan Kroasia akan menjadi pertandingan pembuka. Semua pemain nomor wahid akan bertanding atas nama negaranya untuk memenangi Piala Dunia tahun ini. Brasil tentu saja akan makin semarak dan ramai dalam menyambut tamu-tamu dari seluruh penjuru dunia.

Indonesia yang tidak ikut berlaga-pun ikut merasakan euforianya, suasana Piala Dunia sampai kemana-mana bahkan sampai mini market sekalipun. Saya juga tidak mau ketinggalan untuk meramaikan, sekalipun Indonesia tidak ikut berlaga namun bukan berarti saya tidak mengunggulkan Tim Negara lain, secara konsisten sejak Piala Dunia 1990 saya mendukung Timnas Italia, pada waktu itu Roberto Baggio-lah yang membuat saya jatuh hati. Saya berharap Timnas Italia tahun ini dapat memberikan hasil yang terbaik.

Terlepas dari Piala Dunia, Sepakbola di Indonesia merupakan salah satu cabang olahraga terpopuler, meskipun saya sebagai pendukung setia Timnas masih harus bersabar dan selalu gigit jari akan prestasi Timnas Indonesia yang bisa dikatakan hampir tidak pernah ada dan terlupakan, saya berharap suatu saat entah kapan kelak Timnas kita dapat membuat suatu kejutan yang membanggakan. Salah satu harapan saya adanya titik cerah di diri Evhan Dhimas dkk, ya...saya sangat berharap terhadap Timnas U19 mampu membawa nama harum Sepakbola Indonesia ke mata dunia kelak.

Rasa rindu akan prestasi Timnas ini saya harap bisa terwujud, begitu inginnya saya melihat adik-adik Timnas berprestasi. Selain rindu akan prestasi saya juga berharap paling tidak sepakbola Indonesia memberikan kesan yang baik dimata dunia. Terus terang saya malu tentang kondisi Liga di Indonesia yang katanya profesional. Bagaimana tidak malu, seringkali pemain jadi korban keganasan Liga ini. Bahkan kalau saya boleh berpendapat Liga Indonesia adalah Liga terkeras didunia, bukan lagi Liga Inggris atau Liga Spanyol, saya punya alasan kenapa saya berpendapat demikian, karena pemain yang ingin bermain di Liga Indonesia harus siap mental, siap tidak menerima bayaran, siap menerima terkaman pemain-pemain yang tidak bisa mengendalikan diri.

Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan Liga Indonesia disini, saya hanya ingin mengungkapkan kekesalan hati saya, setelah saya kemarin melihat berita di Televisi swasta bahwa ada seorang pemain asal Rusia Sergey Litvinov menjadi buruh penjual jus di Solo, dia terpaksa berjualan jus karena gaji yang menjadi haknya selama tiga bulan belum dibayarkan. Dia pun ingin segera pulang kenegaranya, "Saya rindu anak dan istri saya. Saya ingin cepat pulang. Saya tidak mau lagi main di Indonesia. Karena saya tidak mau mati di sini karena gaji tidak dibayar. Semoga masalah saya cepat selesai, biar saya bisa kembali ke rumah", kira-kira begitu komentar dia yang saya kutip dari Detik. Kasus seperti Sergey ini jangan disepelekan karena saya membaca harian Bola (11/06/2014) dimana Mikael Silvestre (eks. United) pernah ditanyai wartawan begini "Apa keuntungan yang diperoleh Sepakbola Indonesia dengan kedatangan pemain dan tim populer semacam anda?" Kemudian jawab Silvestre "...Manfaat untuk sepakbola Indonesia? Saya rasa tidak ada. Saya tahu sedikit tentang sepakbola Indonesia, saya dengar ada pemain yang tidak menerima gaji....."

 Sergey Litvinov ketika melayani pembeli jus

Sergey Litvinov beraksi didepan kios jus

Selain kasus Sergey, masih jelas teringat dibenak saya akan kematian Diego Mendieta, pemain Persis Solo yang meninggal karena tidak sanggup membayar biaya perawatan dirumah sakit, imbas gajinya yang belum dibayarkan, ketika dirawat dia pernah bertanya kepada seorang rekan "Kawan, sudah gajian?", miris bila membaca kalimat pertanyaan seperti itu, sebegitu teganyakah Sepakbola kita ini, sehingga harus makan korban? Disamping kasus tunggakan gaji pemain, dilapangan pun pesebakbola harus siap mental dan fisik, kasus yang belum lama terjadi adalah kematian Akli Fairuz, pemain Persiraja Banda Aceh. Akli meninggal karena terjangan kaki kiper PSAP Sigli Agus Rohman, selain terjangan tersebut, tindakan medis yang dianggap lambat turut andil dalam kematian Akli. Agus Rohman bisa mengelak bahwa terjangan yang dilakukannya adalah ketidak sengajaan, namun sebagai penonton yang bisa mencari sumber dari mana-mana, sangat jelas saya menyaksikan bagaimana kaki Agus yang secara sengaja diangkat menerjang perut Akli. Atas kejadian tersebut Agus harus menerima skors dari komdis PSSI tidak boleh aktif dalam dunia sepakbola selama satu tahun, namun apakah itu merupakan hukuman yang setimpal? 

Diegot Mendieta rawat jalan karna tak mampu membayar rawat inap

Saya sebagai penonton sangat berharap ada kemajuan dari sepakbola Indonesia, manajemen klub yang bagus tentu akan menarik banyak sponsor dan tidak perlu menjagakan APBD. Bila klub dirasa kurang mampu mengontrak pemain asing, tidak perlu-lah dipaksakan, bina bibit-bibit lokal agar dapat menekan gaji pemain, kalau boleh memberi masukan "Gaji lebih kecil sedikit tidak apa-apa, yang penting lancar..". Hal yang mampu membuat saya agak lega, PSS Sleman klub asal kota saya juga menerapkan hal yang demikian, tidak banyak nama besar disana, namun sepengetahuan saya hampir tidak pernah ada berita tentang pemain yang protes akibat gaji tertunda.

Mari sebagai penikmat sepakbola, kita berharap agar sepakbola Indonesia dapat berbenah diri, menuju sepakbola yang benar-benar profesional. Agar Indonesia bisa unjuk gigi di pentas dunia, semoga harapan saya ini bukan hanya impian belaka, semoga harapan saya ini dapat menjadi kenyataan, entah cepat maupun lambat. Terimakasih.



*Post diatas adalah murni tulisan saya, mohon maaf bila ada yang tidak berkenan dan bila ada salah mohon dikoreksi.
Foto diambil dari berbagai sumber yang dicari melalui Google

1 komentar:

Akan lebih indah bila kita menggunakan kata-kata yang baik, terimakasih :)